Tragedi Meurah
Pupok
berkaitan dengan aulia 44 sabang
berkaitan dengan aulia 44 sabang
Seperti kebanyakan kisah kerajaan, Aceh pun memiliki banyak
pengalaman tragis. Diriwayatkan bahwa Sang tgk mangeota , Meurah Pupok,
harus mengakhiri hidupnya di ujung pedang ayahanda tercinta dan agung,
Sultan Iskandar Muda. Meurah Pupok dituduh telah berbuat zina. Konon
Meurah memiliki perilaku yang buruk sehingga ia tertangkap basah sedang
berselingkuh dengan isteri orang. Yang menangkap adalah sang suami, di
rumahnya sendiri pula. Sang suami mencabut rencong, ditusukkannya ke
tubuh isterinya yang berbuat serong. Sang suami kemudian melaporkan
langsung kepada Sultan, dan setelah itu di depan rajanya sang suami
kemudian melakukan bunuh diri.
Kasus memalukan ini sangat mencoreng kehormatan kerajaan. Maka kepada si
pelaku sekalipun dia anak raja, harus dihukum sebagai ganjaran atas
perbuatannya.
Mate aneuk meupat jeurat, gadoh adat hana pat tamita, adalah ungkapan filosofis yang beranjak dari peristiwa penghukuman oleh Sultan terhadap Putra Mahkota. Artinya kira-kira Mati Anak Boleh Dicari Kuburnya, Tetapi Mati Adat Dimana Lagi Mau Dicari. Maksud ‘adat’ didalam ayat ini adalah adat-adat yang Islami yang diterapkan di bumi Aceh Darussalam pada masa itu.
Adat harus ditegakkan meski anak harus dikorbankan
Sebab menegakkan adat identik dengan menegakkan hukum Islam. Hukom ngen adat lage zat ngen sifheut.Tuduhan
berbuat zina dialamatkan kepada Meurah Pupok, namun tidak umum
diketahui bagaimana proses peradilan berdasarkan hukum Islam
terhadapnya. Tidak jelas siapa nama empat orang saksi yang dihadapkan ke
muka pengadilan. Siapa saja yang bertindak sebagai hakim yang mengadili
kasus ini. Sebab walaupun raja adalah penentu tertinggi, tapi sebagai
sebuah kerajaan Islam, tentulah ketentuan-ketentuan syari’at dijunjung
tinggi.
Maka timbullah ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak Syiah Kuala. Adat dipelihara Sultan Iskandar Muda, sedang pelaksanaan hukum atau agama di bawah pertimbangan Syiah Kuala.
Lokasi tempat makam Murah Pupok di kemudian hari dijadikan kompleks pekuburan tentara Belanda yang terkenal dengan nama “KerKhoff Peutjoet”
yang dikatakan sebagai kuburan Belanda terluas di luar Negeri Belanda.
Sehingga bagi yang sedikit jeli, akan bisa melihat betapa ditengah
ribuan makam tentara Belanda tersebut terdapat satu makam tanpa
identitas dan tidak terawat yang disampingnya terpasang papan peringatan
dari Dinas Kebudayaan yang menyatakan bahwa itu adalah Makam Meurah
Pupok.Maka timbullah ucapan kebanggaan orang Aceh: Adat bak Po Temeuruhoom, Hukom bak Syiah Kuala. Adat dipelihara Sultan Iskandar Muda, sedang pelaksanaan hukum atau agama di bawah pertimbangan Syiah Kuala.
tragedi Meurah Pupok ini sebetulnya memang telah dirancang sedemikian
rupa oleh kelompok politisi istana yang berkhianat. Mereka dengan licik
memanfaatkan Meurah Pupok yang tengah terjerat cinta. Konon ini
merupakan permainan kelas tinggi. Meurah yang menjadi target, masih
teramat lugu dengan kemudaannya sehingga tidak menyadari jebakan
tersebut. Maka akhirnya pengkondisian itu berjalan sukses. Pupok
terbukti berzina. Memang ia merupakan anak raja, tapi hukum syariah
tidak boleh dinodai. Pupok mati.
Dengan demikian satu-satunya pewaris tahta telah tiada. Yang diuntungkan, para pengkhianat tentu bersorak.
Tetapi versi kedua dari tragedi Meurah Pupok ini tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Aceh karena tidak didukung oleh fakta sejarah yang kuat
Dengan demikian satu-satunya pewaris tahta telah tiada. Yang diuntungkan, para pengkhianat tentu bersorak.
Tetapi versi kedua dari tragedi Meurah Pupok ini tidak terlalu populer di kalangan masyarakat Aceh karena tidak didukung oleh fakta sejarah yang kuat
dan kita akan buktikan kebenar ny
suber;buku penigalan belanda dan keterang kebenar nya menurut fersih goib benar
Tidak ada komentar :
Posting Komentar